Program studi Kedokteran Gigi adalah pendidikan tinggi yang mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi dokter gigi profesional. Berbeda dari Kedokteran Umum, jurusan ini fokus pada kesehatan gigi, mulut, dan struktur wajah yang berkaitan.
1. Tujuan Program Studi Kedokteran Gigi
Mendidik calon dokter gigi yang mampu mendiagnosis, merawat, dan mencegah masalah kesehatan gigi dan mulut.
Membekali mahasiswa dengan ilmu, keterampilan klinis, dan etika profesional kedokteran gigi.
2. Lama Pendidikan
Pendidikan dibagi menjadi dua tahap:
a. Tahap Akademik (Preklinik) – Sarjana Kedokteran Gigi (S.KG)
Durasi: ±3,5 – 4 tahun
Fokus: Ilmu dasar kedokteran dan gigi (anatomi kepala-leher, histologi gigi, patologi mulut, biomaterial, dll).
Teori dan praktikum di laboratorium.
Mahasiswa belajar teknik-teknik dasar seperti pencabutan gigi, penambalan, pembuatan gigi tiruan, dsb.
b. Tahap Profesi (Koas/Profesi Dokter Gigi) – drg.
Durasi: ±1,5 – 2 tahun
Fokus: Praktik klinik langsung pada pasien di rumah sakit gigi dan mulut.
Rotasi di berbagai bagian: konservasi gigi, ortodonti (kawat gigi), periodonsia (gusi), prostodonsia (gigi palsu), bedah mulut, dll.
3. Kurikulum Umum
- Preklinik: Anatomi kepala dan leher, Ilmu bahan kedokteran gigi, Farmakologi, Mikrobiologi, Ilmu penyakit mulut.
- Klinik: Operasi gigi, Endodontik, Ortodontik, Bedah mulut, Gigi tiruan, Penyakit jaringan pendukung gigi.
- Skill Praktik: Mahasiswa akan mempraktikkan keterampilan di phantom lab sebelum ke pasien sungguhan.
- Etika dan Komunikasi: Penekanan pada hubungan dokter gigi-pasien.
4. Gelar Lulusan
- Setelah lulus akademik: S.KG (Sarjana Kedokteran Gigi)
- Setelah lulus profesi: drg. (dokter gigi)
5. Prospek Karier
- Dokter Gigi Umum (praktik mandiri, klinik, rumah sakit)
- Dokter Gigi Pemerintah/Puskesmas/TNI/Polri
- Melanjutkan ke Dokter Gigi Spesialis, seperti:
- Ortodontis (kawat gigi)
- Bedah mulut
- Konservasi gigi
- Periodonsia (penyakit gusi)
- Dosen/peneliti di bidang kedokteran gigi
6. Kelebihan & Tantangan
- Kelebihan: Lebih fokus dan aplikatif, cepat membuka praktik sendiri, kebutuhan tinggi di masyarakat.
- Tantangan: Ketelitian tinggi, koordinasi tangan-mata, banyak praktik teknis, biaya alat praktik bisa mahal.
